THS THM Silat di dalam Gereja Katolik

Pengalaman Pribadi. Doa Salam Maria vs khodam



Ilustrasi 

Halo salam kenal. Tulisan ini adalah sebuah pengalaman pribadi yang saya sendiri alami. Saya adalah seorang laki-laki yang sangat gar berolahraga, hampir semua saya suka mulai Volly ball, Jogging, sepak bola, bulutangkis, termasuk saya suka olahraga beladiri. Olahraga beladiri sudah saya tekuni semenjak saya masih kelas dua SMP. Awalnya karena keseringan nonton film laga di TV akhirnya saya tertarik mengikuti latihan beladiri.

Seperti pada umumnya latihan beladiri kami dimulai dengan gerakan dasar seperti pada beladiri lainnya, namun karena saya mengikuti Pencak Silat ada beberapa gerakan silat bahkan doa yang mengharuskan diucap memakai bahasa tertentu. Namun karena saya berbeda keyakinannya akhirnya tidak memakai doa tersebut.

Latihan saya berjalan hingga 4 tahun dan saya berhasil menyandang tingkat tinggi ke satu. Dan semakin tinggi tingkatannya maka semakin berbeda materi yang harus dipelajari. Pada tingkat ini kami lebih banyak melakukan meditasi dan olah jiwa dalam istilah Silat nya, dan menurut saya, saya orang yang cukup cepat dalam berlatih ilmu batin.

Pada suatu hari, perguruan pencak silat kami mengadakan rapat tahunan rutin, dalam rapat ini semua pengurus yang ada di cabang latihan berkumpul untuk membahasa program kerja serta kegiatan kedepannya, di silat kami belajar berorganisasi juga. 

Dalam rapat tersebut, seorang anggota mengusulkan agar mengundang seorang tetua dalam silat atau senior atau orang ahli tenaga dalam, untuk memperdalam apa yang kami pelajari, maka usul tersebut diterima. 

Hanya sekitar satu Minggu pelatih dari pulau Jawa datang membawa materi baru bagi kami. Latihan seperti biasa diawali doa kemudian peregangan dan lainnya, namun kali ini latihan nya jam 22.00 malam hari.

Sang pelatih tersebut meminta kami agar duduk melingkar, dan beliau mengatakan akan memasukan kedalam tubuh kami roh macan putih. Hal ini sontak membuat saya terkejut, karena awalnya saya hanya ingin olahraga dan tidak mau ada hal lain dalam tubuh saya.

Namun saya waktu itu tidak banyak bicara hanya diam saja. Karena kami dalam keadaan khusuk sambil meditasi. Lalu kami diberi sebuah mantera yang berisi supaya roh kami ditukar dengan roh macan putih, atau istilah nya macan putih dijadikan Khodam atau pelindung kami. Saya semakin merasa takut, lalu beberapa teman saya setelah dibagi rapalan tersebut ada sebagian yang tiba-tiba keserupan dan bertingkah seperti harimau dan suara pun mirip, melihat itu saya semakin takut.

Lalu sampai giliran saya, dalam hati saya tidak membaca rapalan tersebut tapi merapal doa Salam Maria dan Bapa kami secara bergantian. Entah kenapa diantara teman kami, hanya saya yang tidak keserupan. Lalu pelatih tersebut mengatakan bahwa saya tidak fokus dan jiwa saya tidak bersih. Pedahal saya memang tidak mau ada pelindung yang lain selain Tuhan Yesus.

Hingga beberapa kali dicoba bahkan di transfer paksa tetap roh tersebut tidak bisa masuk ke dalam jiwa saya. Oleh karena itu doa Salam Maria dan Bapa Kami besar kuasanya.































































Komentar